Loading...

Minggu, 23 Januari 2011

Makalah Hadits Tentang Kepemimpinan Oleh Kelompok 10 (Hendra, Hidayaturrahman, Husaini)

BAB 1
PENDAHULUAN

Kepemimpinan adalah syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai kemasalahatan, baik di dunia maupuan di akhirat karena kepemimpinan adalah penentu terhadap apa yang di pimpin, semua kepemimpinan itu amanah baik dalam segala aspek Karen sang pemimpin wajib bertanggung jawab terhadap yang di pimpinnya. Dan bagi masyarakat yang di pimpin wajib mentaati pemimpin, sebagaimana yang ditegaskan di dalam Al-Qur’an.

Sebagai mana diperintahkan Allah untuk taat kepada pemimpin maka di larang untuk menyalahinya. Karena pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab atas yang dipimpinnya selama pemimpin masih layak jadi panutan bagi yang dipimpinnya.


BAB II
Hadits tentang kepemimpinan
1. Pemimpin memikul tanggung jawab
Setiap pemimpin memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab kepada seluruh yang dipimpinnya baik itu dalam hal yang kecil apalagi dalam hal yang besar. Bertnggung jawab disini memiliki arti luas yaitu menyangkut tiap-tiap aspek dalam masyarakat yang dipimpinnya terutama dalam hal kebijakan guna untu mencapai kesejahteraan. Hal ini di singgung dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Yaitu :


Artinya :
Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “ setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimitai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarga dirumahnya. Ia akan dipertanggung jawabkan tentang keluarganya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya. Ia akan dipertanggung jawabkan tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta pertuanannya. Ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang harta tuannya itu. Ketahuilah kamu semua adalah pemimipin dan semua akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.
Dalam konteks diatas dijelaskan bahwa seorang pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dalam hadits diatas Rasulullah SAW menegaskan kepada umatnya bahwa yang dimaksud pimpinan itu bukan Cuma orang-orang yang memiliki jabatan akan tetapi setiap pemimpin itu adalah tiap individu manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri karena kelak di hari kiamat akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.

2. Pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat
Pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab kepada apa yang dipimpinnya otomatis sang pemimpin adalah pelayan bagi masyarakat. Pelayan dalam artian selalu bersedia dan ikhlas demi kepentingan yang dipimpinnya dan rela berkorban demi mereka

Dalam hal ini rasulullah SAW bersabda;




Artinya
Hadits Ma’qil bin Yasar, dari hasan bahwasanya ‘ Ubaidillah bin Ziad mengunjungi Ma’qil bin Yasar disaat sakitnya. Lantas Ma’qil berkata kepadanya:” bahwasanya saya akan ceritakan kepadamu suatu hadits yang saya dengar dari Rasulullah SAW. Saya mendengar dari Rasulullah SAW bersabda;’’ Tidak ada seorang hamba yang diberi tugas oleh Allah untuk memelihara segolongan rakyat, lalu ia tidak melakukan sesuai dengan petunjuk melainkan ia tidak memperoleh surge’’.
Dalam hadits diatas bahwa kepemimpinan adalah amanah dari Allah yang wajib dlaksanakan dengan baik dan tidak Zhalim, dan barang siapa menyalah gunakan apa yang diberi Allah maka ia akan mendapatkan balasan karena tidak menjalankan amanah dengan semestinya.
3. larangan berambisi terhadap jabatan
Jabatan adalah suatu amanah yang wajib dilaksanakan oleh siapa-siapa yang memegangnya oleh karena dilarang berambisi kepada jabatan karena jabatan merupakan hal yang berat dalam melaksanakanya
Tentang seseorang yang berambisi jadi pemimpin adalah perbuatan yang di benci oleh Allah SWT. Hal ini di karenakan tamak kepada jabatan bukan hanya berdampak buruk bagi diri melainkan juga bagi orang lain hanya demi memuaska hawa nafsu. Hadist dari Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut :




Artinya
Diriwayatkan dari Abdurrahman Ibnu Samurah ra. Beliau berkata” Telah bersabda oleh Nabi SAW : wahai Abdurrahman ibnu Samurah’’ janganlah engkau meminta diangkat jadi penguasa karena, jika kanmu diberi kekuasaan lantaran permintaan , niscaya engkau dibiarkan ( yakni tidak diberi pertolongan ) Namun, jika kamu diberi kekuasaan bukan karena permintaan niscaya kamu di beri pertolongan untuk melaksanakannya ( Al-Bukhari mentakhrij hadist ini dalam kitab’’sumpah dan nadzar ).
Dalam hadits diatas menyatakan larangan rasulullah atas Abdurahman ibnu Samurah untuk berambisi kepada jabatan dikarenakan jabatan yang terlalu dikehendaki kelak akan membuat seseorang akan terbebani untuk melaksanakannya, sebaliknya apabila jabatan tersebut tidak dipinta maka akan mudah menyelesaikan semua masalah yang ada di dalamnya.
Dan ada pula hadits nabi yang berbunyi;


Artinya’’
Diriwayatkan dari Abi musa dan mu’adz bin jabal. Abu musa berkata ;’’ saya datang kepada Nabi SAW. Bersama dua orang laki-laki dari golongan Al-Asya’ari ,yang seseorang disebelah disebelah kananku dan seorang yang lainnya disebelah kiriku. Sementara , Rasulullah SAW sedang bersiwak. Kemudian , masing- masinng mereka berdua mengajukan permohonan kepada Nabi. Maka Nabi pun bersabda;’’ wahai abu Musa , atau wahai Abdullah bin Qais’’. Abu musa berkata’’ saya menjawab;’’Demi dzat Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran . kedua orang tersebut tidak memberitahukan isi hatinya dan saya tidak mengetahui bahwa mereka meminta pekerjaan. Seolah- olah saya melihat sugi nabi telah teragkat dari bawah bibirnya’’. Nabi bersabda : “Tidak sekali-kali “ atau “kami tidak akan mengangkat seseorang yang menghendaki satu pekerjaan. Tetapi pergilah kamu hai Abu Musa” atau”hai Abdullah bin Jabal pan mengikutinya. Ketika mu’adz dating kepada abu musa, Abu Musa pun memberikan bantal sandaran kepdanya seraya berkata : “Duduklah”. Tiba-tiba disitu terdapat seorang laki-laki yang diikat. Mu’adz bertanya : “Geranganapakah ini?” Abu musa berkata : “Duduklah”. Mu’adz pun menjawab :”Saya tidak akan duduk sebelum dia di bunuh”.Itulah ketetuan Allah RasulNya; tiga kali. Karena itu Abu Musa memerintahkan membawa orang yahudi itu lalu di bunuhnya. Kemudian Abu Musa dan Mu’adz bertukar pikiran tentang shalat malam. Lalu salah seorang dari mereka berdua berkata :”Saya ini akan shalat malam dan tidur. Saya berharap apa-apa yang saya inginkan pada waktu shalat malam ku terdapat pada waktu aku tidur”.

Dua hadit di atas memperkuat tentang larangan untuk berambisi terhadap jabatan karena selain merugikan diri sendiri juga dapat merugikan orang lain.karena sebuah jabatan yang menurut hawa nafsu akan membawa kepada kehancuran.

4. Batas ketaatan kepada pemimpin.
Allah SWT.memerintahkan umat manusia untuk tunduk kepadaNya. RasulNya dan para pemimpin yang mengatur dari masyarakat. Jadi jelas bahwa sangat dilarang untuk membangkang kepada pemimpin karenapemimin adalah imam yang bertanggung jawab atas kemaslahatan rakyatnya.
Akan tetapi tidak semua intruksi dari pemimpin harus kita patuhi ada juga kita dsuruh untuk menyalahi pemimpin tersebut dikala ia memerinah maksiat di jalan yang di murkai Allah. Hal ini ada dalam hadits Nabi Muhammad SAW:



Artinya:
Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar ra. Nabi SAW bersabda: “ Mendengar dan mentaati itu merupakan kewajiban seseorang muslim mengenai hal-hal yang ia sukai dan yang ia benci,sepanjang ia tidak diperintahkan berbuat durhaka. Maka jika diperintah untuk berbuat durhaka. Tidaklah boleh mendengarkan dan tidak boleh mengikutinya.

Dan ada juga hadits Nabi yang berbunyi:


Artinya:
Diriwayatkan Ali Ibnu Abi Thalib RA. Berkata bahwa Nabi SAW mengutus pasukan dan diserahkanya kepada seorang dari kalangan anshar dan beliau perintakan untuk taat kepadanya. Tiba-tiba ia marah dan berkata:”Bukankah Nabi SAW memerintahkan kalian untuk mentaati ku”. Mereka menjawab:”Benar” lalu berkata lagi” kumpulkan kayu bakar!” lalu mereka mengumpulkannya, ia berkata:” nylakan api!” lalu mereka menyalaknnya, lalu ia berkata:”masuklah kedalam api itu!”,dan ketika mereka akan masuk kedalam api itu mereka saling berpandangan, lalu berkata:”kami mngikuti perintah Nabi SAW., hanya karena takut api, apakah kami harus memasukinya?” api itu padam seiring dengan redanya amarah pemimpin tersebut. Kejadian ini di ceritakan nabi SAW belau pun bersabda:” jika mereka masuk api tersebut niscaya mereka tidak keluar darinya sampai hari kiamat, taat itu hanya kepada kebaikan”.
Dalam dua hadits di atas nyata bahwa seluruh apa yang di perintahkan yang melanggar hukum Allah maka wajib di ingkari. Hal ini menyatakan bahwa kaum muslimin wajib keritis untuk tidak salah dalam mengambil keputusan seperti apa yang di terangkan oleh nabi Muhammad SAW.
5. Kaum wanita menjadi pemimpin

Selayaknya yang jadi pemimpin itu adalah seorang pria yang mempunyai kebijaksanaan dan mempnyai kemampuan yan lebih dan tidak selayaknya yang jadi pemimpin itu seorang wanita.. Hal ini dinyatakan dalam Al’qur’an surah An-Nisa;


34. kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

[289] Maksudnya: tidak Berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290] Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291] Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.


Ayat diatas secara garis besarnya menerangkan bahwa kaum laki-laki itu ialah yang mengatasi kaum hawa atau perempuan. Dan hal ini juga Rasulullah menjelaskan dalam sabdanya yaitu;


Artinya;
Dari abi Bakrah dari Nabi SAW. Ia bersabda’’ tidak akan jadi bahagia satu kaum yang menjadikan seorang perempuan sebagai ketua atau pemimpin mereka.
Dari hadist diatas Nabi menjelaskan bahwa tidak boleh bagi seorang wanita menjadi pemimpin. Rasulullah juga pada ketika memilih khalifah maka yang dipilih untuk jadi khalifahnyab itu laki-laki.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
semua manusia dibumi ini memiliki tanggung jawab baik dalam keluarga, negara,umat,maupun dirinya sendiri. Dan kita semua memiliki tanggung jawab dan akan ditanya Allah pada hari kiamat nanti atas tanggung jawab kita itu apakah sudah dijalankan dengan benar atau. Dan pemimpin juga pelayan bagi yang dipimpinnya yang berupa nasihat atau sebagainya.
Dalam masyarakat harus ada pemimpin yang mengurus urusan mereka. Coba anda bayangkan jikalau setiap permainan itu tak ada yang mengatur suatu permainan itu niscaya permainan itu akan kacau balau,begitu juga dalam suatu masyarakat jikalau tak ada yang memimpin maka akan terjadi yang namanya kekacauan. Tetapi ,dilarang yang namanya berambisi untuk menjadi pemimpin sehingga menghalalkan segala cara demi kesenangan dunia semata.
Dengan demikian kita sebagain umat harus kritis terhadap apa-apa yang diperintahkan karena tidak semua perintah wajib kita taati tetapi jikalau perintah itu melanggar hukum Allah maka kita tidak wajib mentataatinya.


DAFTAR PUSTAKA
Ja’far Abidin, Drs.Lc.MA,Fuady.M.Noor,M.Ag. Hadits Nabawi.IAIN Antasari. Banjarmasin. 2006
Shabir, Muslich,Drs.H.MA. AL-Lu’lu’ Wal Marjan. Al-Rhidha. Semarang.1993
Bahreisj, H. Salim. Tarjamah Riadhus Shalihin Jilid 1. PT, AL Ma’arif.Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar