Rabu, 05 Januari 2011

Tentang Bersuci (Makalah Hadits)

Dewasa ini terutama di Indonesia ada istilah Islam KTP. yang sifatnya tak asing lagi bagi kita. Banyak dari orang islam sendiri tidak tahu hukum agamanya, ironis dan menyedihkan sebenarnya, misalkan saja buang air kecil, mandi, wudhu, yang dilakukan setiap hari, itu saja masih banyak orang yang belum tahu karena kejahilannya. Padahal tiga hal di atas saja sudah penting, karena itu menyangkut kesucian, yang dalam Islam begitu diaturnya dengan baik.
Maka dari itu kami sebagai pemakalah merasa perlu menambahkan hadits dan keterangan-keterangan yang perlu, sekira yang umumnya saja mengenai hadits-hadits tentang buang air kecil, mandi, wudhu, dll. 1. Kencing itu najis
حديث ابن عبّاس. قال : مرّ النبي صلى الله عليه وسلّم بقبرين. فقال : انّهما ليعذّبان, وما يعذّبان فى كبير, امّا احدهما فكان لا يستبرئ من البول, وامّا الاخر فكان يمشى با النميمة.
Ibnu Abbas berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw. berjalan melalui dua kuburan, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kedua orang yang ada di dalam kubur ini sedang disiksa karena dosa besar. Adapun yang satu dia tidak membersihkan kencing, sedang yang lain dia selalu mengadu domba .
2. Hukum jilatan anjing
حديث ابى هريرة, قال : انّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال : اذا شرب الكلب فى اناء احدكم فليغسله سبعا.
Abu Hurairah berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila anjing minum di bejana seorang kamu, maka hendaklah dicucinya tujuh kali ”.
3. Wudhu
Menurut lughat, Wudhu adalah perbuatan, menggunakan air pada anggota tubuh tertentu, sedangkan wudhu adalah air yang digunakan untuk berwudhu. Kata ini berasal dari kata wadha’ah yang berarti baik dan bersih. Dalam istilah Syara’ Wudhu adalah perbuatan tertentu yang dimulai dengan niat .
Adapun hadits yang menerangkan tentang kewajiban Bersuci adalah.
حديث عن ابى هريرة, عن النبى صلى الله عليه وسلّم قال : لا يقبل الله صلاة احدكم اذا احدث حتّى يتوضّأ.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda: “Allah tidak akan menerima shalat seorang kamu, apabila ia berhadats sebelum berwudhu ”.
a. Syarat dan Fardhu Wudhu
Adapun syarat sah wudhu adalah:
1. Islam.
2. Tamyiz.
3. Air Mutlak.
4. Tidak ada yang menghalangi.
5. Masuk waktu shalat (khusus bagi orang yang hadatsnya berkepajangan) .
b. Fardhu Wudhu (Rukun) ada enam, yaitu:
1. Niat.
2. Membasuh muka (wajah).
3. Membasuh kedua tangan.
4. Menyapu kepala.
5. Membasuh kaki.
6. Tertib (berurutan) .
c. Sunah-sunah wudhu:
1. Basmalah.
2. Membasuh kedua telapak tangan sampai ke pergelangan tangan sebanyak tiga kali sebelum berkumur.
3. Madmadah (berkumur-kumur).
4. Istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung).
5. Meratakan sapuan keseluruh kepala.
6. Menyapu kedua telinga.
7. Menyela-nyela janggut dengan jari-jari.
8. Mendahulukan yang kanan dari yang kiri.
9. Melakukan setiap perbuatan bersuci sebanyak tiga kali.
10. Muwalah, artinya melakukan perbuatan-perbuatan wudhu itu secara beruntun.
11. Menghadap kiblat.
12. Menggosok-gosok anggota wudhu.
13. Hemat air .
d. Hal-hal yang membatalkan wudhu.
1. Keluar sesuatu dari qubul dan dubur.
2. Tidur.
3. Hilangp akal.
4. Persentuhan kulit laki-laki dan perempuan.
5. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan .
SIFAT WUDHU NABI SAW.
حديث ابن عفّان . دعا بأناء فافرغ على كفّيه ثلاث مرار فغسلهما. ثم ادخل يمينه فى الاناء, فمضمض واستنشق, ثمّ غسل وجهه ثلاثا, ويريه الى المرفقيه ثلاث مرار, ثمّ مسح برأسه, ثمّ غسل رجليه ثلاث مرار الى الكعبين, ثمّ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: من توضّأ نحو وضوئي هذا ثمّ صلّى ركعتين لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدّم من ذنبه.
‘Utsman bin ‘Affan pernah meminta bejana air lalu ia menuangkan air pada kedua telapak tangannya tiga kali, setelah itu dia membasuh keduanya, kemudian dia memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana, lalu di berkumur-kumur dan membasuh hidung. Setelah itu membasuk mukanya tia kali, dan membasuh tangannya hingga siku-sikunya tiga kali. Kemudian dia mengusap kepalanya, dan membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki hingga tiga kali. Setelah itu ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat dan tidak bercakap-cakap di dalam wudhu dan shalat, maka diampunilah baginya dosa yang telah lewat .
4. Mandi (Al-Ghusl)
Menurut lughat, mandi disebut Al-Ghasl atau Al-Ghusl, berarti mengalirkan air pada sesuatu. Sedangkan istilah syara’ adalah mengalirkan air ke seluruh tubuh disertai niat.
a. Adapun rukun mandi adalah:
1. Niat.
2. Menyampaikan air ke selutuh tubuh .
3. Hal-hal yang mewajibkan mandi adalah:
4. Bersetubuh.
5. Keluar mani.
6. Mati, kecuali mati syahid.
7. Haid.
8. Nifas.
9. Waladah .
Hadits Nabi Muhammad saw.
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: اذا التقى الختانان وغابة الحشفة فقد وجب الغسل انزل او لم ينزل. (رواه الطبران).
Ibnu ‘Umar berkata, Rasulullah saw. bersabda: Jika bertemu dua kemaluan, dan masuk ujung kemaluan, maka telah wajib mandi. Baik keluar mani atau tidak keluar. (H.R. Ath-Thabrani) .
5. Tayammum
Apabila seseorang dalam keadaan tertentu tidak dapt mandi atau berwudhu, maka bersuci dapat dilakukan dengan tayammum .
حديث عمّار. جاء رجل الى عمر ابن الخطّب, فقال: انّى اجببت فلم اصب الماء, فقال عمّار ابن ياسر لعمر ابن الخطّاب: امّا تذكر انّا كنّا فى سفر انا وانت: فامّا انت فلم تصلّ, وامّا انا فتمعّكت فصلّيت, فذكّرت للنّبي صلى الله عليه وسلّم فقال النّبى صلى الله عليه وسلّم: انّما كان يكفيك هكذا, فضرب النّبيّ صلى الله عليه وسلّم بكفّيه الارض, ونفخ فيهما وجهه ثمّ مسح بهما وجهه وكفّيه.
Dari Ammar, bahwa pada suatu hari ada seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab, lalu berkata: Ya Umar, saya telah junub, tetapi tidak mendapatkan air. Maka Ammar bin Yasir berkata kepada Umar bin Khattab, Hai Umar, tidak kau ingat ketika saya bersama engkau dalam perjlanan, lalu di sana kau junub dan tidak shalat, sementara itu saya berguling-guling di atas tanah setelah itu saya shalat, kemudian peristiwa itu saya laporkan kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda: sesungguhnya sudah cukup jika kamu melakukan seperti ini ! lalu Nabi saw. Memukulkan kedua telapak tangannya ke atas tanah, setelah itu ditiupnya dan disapunya kemuka dan kedua telapak tangannya .
a. Syarat-syarat Tayammum adalah sebagai berikut:
1. Ada udzur, sehingga tidak dapat menggunakan air, bisa disebabkan musafir, sakit atau hajat.
2. Masuk waktu shalat.
3. Mencari air setelah masuk waktu shalat.
4. Tidak dapat menggunakan air karena ‘uzur syar’i.
5. Tanah yang murni (khalis) dan suci .
b. Rukun Tayammum
1. Niat.
2. Menyapu wajah.
3. Menyapu kedua tangan.
4. Tartib .
c. Yang membatalkan Tayammum:
1. Semua yang membatalkan wudhu.
2. Melihat air sebelum melakukan shalat.
3. Murtad .


Kesimpulan
Bersesuci itu sangat ditekankan dalam Islam, baik dari hadats kecil, hadats besar, atau najis yang datangnya dari luar tubuh. Islam telah mengatur hal ini dengan sebaik-baiknya, karena bersuci adalah kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum melakukan ibadah.
Cara mensucikan hadats kecil adalah dengan berwudhu atau tayammum jika memang tidak menemukan air. Sedangkan mensucikan hadats besar adalah dengan mandi, namun jika seorang yang junub tidak menemukan air, boleh baginya untuk bertayammum seperti halnya berwudhu.
Berwudhu, mandi, tayammum, dan menghilangkan najis yang datangnya dari luar tubuh telah kami bahas di dalam makalah yang sederhana ini. Ahirnya, semoga Allah menjadikan kita sebagai متطهّرين Amin Ya Robbal ‘Alamin.


DAFTAR PUSTAKA

Fuad, Muhammad, Baqi Ghozali Mukti, Terjemah Al-Lu’lu’ Wal Marjan, Surabaya, Al- Ikhlas.
Nasution, Lahmuddin, Fiqh I.
Bahreisy, Salim, Irsadul ‘Ibad Ila Sabilir-Rosyad, Surabaya, Darussaggaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar